Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

c e r p e n - 1


Ku lirik jam tangan perak yang melingkari pergelangan tangan. Jarum pendek mengarah ke angka tujuh dan matahari sudah tidak menampakkan diri. Di luar sudah semakin gelap dan sudah seharusnya aku meninggalkan ruang ini segera. Hanya aku sendiri yang masih menghuni ruangan kerja saat ini. Semua penghuni lainnya sudah terlebih dahulu mengayunkan kaki mereka untuk terlebih dahulu menuju rumah masing-masing. Dan sudah seharusnya juga aku mengikuti langkah mereka.
Ku matikan komputer, susun kertas-kertas yang dipenuhi angka dan bereskan alat tulis yang berserakan di meja. Dua belas jam lagi aku akan bertemu barang-barang ini kembali. Ku kemasi tas dan pasang jaket untuk bersiap-siap meninggalkan ruangan ini. Ku langkakan kaki dengan santai menuju lobi lantai bawah untuk selanjutntya menuju halte bus kota yang tidak jauh dari depan kantor ini.
Sudah hampir enam bulan saya bergabung di perusahaan ini. Perusahaan yang bergerak dalam bidang pengelolaan dana ini telah membuatku jatuh cinta dari awal ku melamar. Budaya kerja yang cemerlang, manusia-manusia yang bersahabat dan jaminan masa depan yang menggiurkan. Walau banyak tantangan yang saya temui sebagai pegawai baru, hal ini tetap membuat ku ingin bertahan di perusahaan ini untuk jangka waktu yang lama.
Aku berhenti sejenak di depan kantor untuk berteduh. Hujan deras tiba-tiba melanda. Aku bisa merasakan angin dingin menerpa wajahku. Jaket tebal ini tak sepenuhnya bisa menghangatkan tubuh, aku masih bisa merasakan dingin malam yang menusuk tulang. Sekarang bulan November, musim pancaroba dimana peralihan musim kemarau ke musim hujan. Tidak heran hujan sering turun di kota ini.
Saya putuskan untuk berlari melintasi hujan deras menuju halte bus tak jauh dari depan kantor. Hujan ini akan teduh lama jika saya tunggu dan malam sudah semakin larut. Setidaknya aku tidak harus menunggu  lama karena bus yang biasa saya naiki melintas cukup sering. Sembari berlari, saya bisa merasakan air hujan menyiram jaket plastik ini. Bodohnya, saya lupa mambawa payung dan dan saya tahu resikonya. Dari kejauhan, saya mendengar suara Bapak-Bapak yang meneriakan “Hati-hati Neng”. Saya tahu itu Bapak Suprapto, petugas keamanan kantor ini. Bapak itu baik dan penolong. Saya malahan telah mengenalnya dari pertama kali saya datang ke kantor ini.
Tak ada satu pun orang yang sedang menunggu bus di halte ketika saya sampai. Aku bisa merasakan sepatu dan bawah celana yang basah kuyup. Namun hal itu bukan masalah bagiku sekarang. Yang ada di pikiranku saat ini adalah aku harus segera sampai di rumah kontrakan dan beristirahat. Dari ujung jalan, aku melihat bus jingga yang akan ku akan ku naiki. Ku perhatikan bus itu semakin dekat menuju ke arah ku, berdoa semoga bus itu tidak penuh.
 Bus jingga itu akhirnya berhenti di depanku dan bergegas aku naiki. Bus ini hampir penuh dan bersyukur ada kursi kosong di belakang. Saya menuju belakang dan duduk. Lega rasanya saya bisa dapat tempat duduk dan tidak musti berdiri untuk 30 menit ke depan sampai tiba di tujuan. Tak lama setelah saya duduk, ada laki-laki yang juga segera duduk di sampingku. Sepertinya dia juga naik dari halte yang sama denganku. Kemeja biru muda yang dipakainya juga tampak basah.
Bus jingga melaju dengan santai, melintasi jalanan yang digenangi air. Mataku terpaku menyaksikan hal ini, tampak seperti pemandangan yang candu untuk dilihat. Bisa ku rasakan kepala ini mulai berat, mungkin ini karena aku kehujanan. Hidung terasa gatal dan aku pun bersin-bersin cukup kencang. AC bus ini makin menambah dinginnya malam. Tubuhku serasa beku. Aku memang sebenarnya tidak tahan dengan suhu dingin.
Tiba-tiba saya melihat tisu lipat yang disodorkan tepat di depanku. Aku menengok ke samping ke arah di pemilik tangan itu.
“Ambil saja tisunya. Dari tadi kamu bersin-bersin”, kata laki-laki berkacamata hitam di samping ku. Si laki-laki berkemeja biru muda.
Aku hanya memandang ke arahnya sembari berpikir apakah tisu itu harus ku terima atau tidak.
“Tisu ini gak ada obat biusnya kok. Tenang saja”, imbuhnya lagi sambil sedikit tertawa.
Laki-laki ini seperti bisa membaca pikiranku. Aku pun mengambil tisu yang disodorkannya dan segera mengusapkan ke muka. Aku juga percaya tisu itu tidak ada apa-apanya dan aku sangat menghargai kebaikan si laki-laki itu.
“Kamu tadi dari halte Astoria juga ya?”, laki-laki itu bertanya sebagai pembuka perbincangan.
“Iya, Mas”, jawab ku seadanya. Aku rasanya sedang tak ingin berbincang-bincang dengan siapa-siapa saat ini.
“Berarti Mba ini bekerja di Angkasa Group juga ya?”, laki-laki ini bertanya kembali.
“Iya Mas, saya di anak perusahaannya yang bidang keuangan”, jawab ku kembali. Memang tempat kaku bekerja ini perusahaan dengan banyak anak perusahaan dari berbagai bidang yang berlokasi di suatu kompleks perkantoran. Mataku masih terpana melihat pemandangan di luar bus. Fenomena ketika hujan melalui kaca bus yang dipenuhi tetes hujan.
“Hoo iya. Saya juga pegawai di Angkasa Group Mba. Tapi di anak perusahaan manufakturnya, saya di bagin produksinya”
Saya hanya mengangguk sebagai tanda mendengarkan tanpa menimpali.
“Berarti Mba ini kenal dengan Mas Ahmad donk ya? Dia juga sepertinya kerja di tempat Mba. Dia itu teman sekampus saya dulu”, sambung Mas itu lagi.
“Mas Ahmad Saleh ya maksudnya?”
“Iya itu Mba, nama lengkapnya”, tiba-tiba dia tertawa kecil. Entah apa yang lucu.
“Mas Ahmad itu rekan senior satu divisi saya bekerja dulu. Tapi sekarang Mas Ahmad sudah tak kerja di tempat saya lagi. Baru sekitar empat bulanan yang lalu dia resign karena harus pindah ke luar kota bersama isterinya setelah menikah. Jadi saya masih tergolong baru kenal Mas Ahmad”
“Ahmad, Ahmad..”, katanya lagi.
“Loh, kenapa Mas? Ada apa dengan Mas Ahmad?”, saya heran.
“Ahmad itu teman dekat saya sewaktu kuliah di Bandung. Dia orangnya gokil. Saya jadi teringat masa-masa dulu masih seperjuangan dengan Ahmad. Dia orangnya baik dan pintar Mba, tapi kalo gilanya kumat bikin ramee”
“Hooo iya”, jawab ku mengiyakan
“Saya dulu juga awalnya kerja bareng dengan Ahmad di perusahaan Mba, tapi enam bulan saya di sana, saya dipindahkan ke perusahaan tempat saya bekerja sekarang.”
“loh, kenapa dipindahkan?”
“Yaa karena ada kebutuhan pegawai. Awalnya antara saya atau Ahmad tu yang akan dipindahkan, namun akhirnya saya lah yang pindah kantor. Ha ha ha”.
Kemudian di menjelaskan posisi dan pekerjaan yang dia jalani saat ini. Awalnya banyak hal yang tidak saya mengerti, namun karena cara penyampaiannya yang sederhana membuat saya semakin tertarik mendengarkannya. Dia juga menambahkan pengalaman bekerjanya yang sebentar di tempat saya yang sekarang. Ada hal-hal kecil yang menarik yang disampaikannya yang sampai sekarang tidak saya tahu. Dan ternyata dulu dan sekarang tidak banyak yang berubah berubah, mulai dari hal umum dan hal kecil yang sebenarnya tidak perlu dibahas.
"Dulu waktu musim hujan kaya gini juga. Ruang tengah itu pernah bocor lo. Ketahuannya pagi-pagi pas orang-orang mulai masuk kerja. Banyak dokumen penting yang basah kuyup waktu itu", dia kali ini bercerita tentang ruang kerjanya dulu, yang sekarang jadi ruanganku juga.
"Trus gimana seterusnya?" aku penasaran.
"Paniklah si Bu Rani. Biasanya si Ibu tenang. Tahu kejadian begitu, dia ngomel dan semua orang pagi gitu gotong-royong beresin ruangan. Kebayang kan suasananya pagi itu. Ha ha ha".
"Ha ha ha", aku tertawa membayangkan cerita itu dan terhibur. 
Aku bisa melihat ke luar dari dalam bus, bus ini telah melewati SPBU besar di perempatan jalan. Ini berarti aku harus berhenti di halte selanjutnya. Tak terasa sudah hampir sampai di rumah kontrakan. Aku melirik ke arah tisu yang dari awal ku genggam dan spontan ku sodorkan tangan untuk mengembalikan tisu itu ke pemilik semulanya karena aku harus turun. Tanpa sengaja tanganku menyenggol tangannya dan kacamata yang sedang dipegangnya untuk dibersihkan lensanya terjatuh ke lorong bus. Dalam hitungan detik, kaca mata itu pun tidak sengaja terinjak oleh desak-desakan para penumpang yang akan hendak turun.
Aku pun panik dan memohon maaf kepadanya. Aku bisa melihat matanya yang sedikit sipit dengan tatapan tajam yang sedari tadi di tutupi oleh kacamata minus. Kacamata itu sekarang bingkainya sudah patah dan lensanya sudah sedikit retak. Dia pun mengambil kacamata yang terjatuh.
“Tidak masalah Mba, saya masih punya kaca mata cadangan di rumah. Penglihatan saya tidak begitu buruk tanpa kacamata”. Sepertinya dia bisa membaca rasa bersalah di mata saya dan berusaha meredakan kepanikan ku.
“Maaf Mas, saya tidak sengaja. Saya akan carikan kacamata baru pengganti ini. Mohon maaf sekali”, aku sangat kesal dengan diri saya saat itu. Penumpang sudah mulai turun satu per satu dan saya pun harus bergegas turun sebelum pintu bus ditutup dan melaju ke halte berikutnya.
Aku buru-buru ambil kacamata patah dari tangannya. Dia sudah tak banyak bicara dan pasrah ketika kacamatanya ku ambil. Pikiranku berkecamuk memikirkan mungkin dia marah dengan tindakan ku saat ini. Tapi bagaimana pun aku harus turun dari bus ini.

* * *

Tepat tiga bulan sejak kejadian malam itu, dua pasang kacamata di dalam tas aku belum menemukan tuannya. Sejak pertemuan malam itu, aku tidak pernah bertemu dia lagi. Jangankah nomor kontak, namanya saja tidak tahu. Mungkin wajahnya yang masih teringat di otakku. Setiap kali pulang kantor, aku selalu berharap bisa bertemu dengan dia lagi. Rasanya ingin mendengar celotehannya yang menarik lagi, atau paling tidak aku ingin memberikan kacamata pengganti ini.
Malam ini, aku pulang sudah sangat larut. Jam tangan menunjukkan pukul setengah 10. Seperti biasa, aku naik bus di depan halte bus tak jauh dari kantor. Malam ini tetap dingin dan aku berharap masih ada bus yang melintas. Lima belas menit aku menunggu dan bus yang ditunggu datang juga. Ku arahkan langkah memasuki bus dan duduk di kursi paling depan. Ketika bus hendak berangkat, ku lihat sesosok laki-laki masuk ke bus terengah-engah karena sudah berlari mengejar bus ini.
Saya mengenali pria itu. Dia sosok tinggi kurus yang saya temui tepat tiga bulan lalu. Malam ini pun dia masih mengenakan kemeja biru muda seperti yang kenakan waktu itu. Aku percaya ini semacam takdir. 



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Graduation !

Finally, the day came. August 8th, 2012!
Setiap orang yang kuliah menantikan hari ini. Hari yang dinamakan WISUDA.
Bukti nyata bahwa semua pengorbanan selama menempuh pendidikan membuahkan hasil.

Now, its new me, dengan gelar S.Si (Sarjana Sains) di belakang nama, memakai toga garis satu kuning kebanggaan dari almamater. Look, how happy I am!



They're my family. Papa, mama dan adik. Mereka datang di hari bahagia ini. Terimakasih atas semua diberikan, baik moril maupun materil. Without you all, I'm nothing.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Inggris versus Jerman memang seru

Sebenarnya untuk pertandingan ini, saya tidak memihak kepada tim Inggris ataupun Jerman. Dikarenakan tim jagoan saya, Italy sudah angkat koper pulang ke negaranya. Bagi saya, terserah saja tim mana yang akan menang, yang penting bisa menyuguhkan pertandingan yang seru kali ini.

Awalnya saya menginginkan dalam pertandingan ini, Jerman ataupun Inggris jumlah gol yang sama, agar untuk menentukan pemenangnya akan dilakukan adu penalti. Saya sangat suka dengan adu penalti karena itu merupakan titik perjuangan terakhir dalam pertandingan dan tentunya sangat menegangkan.

Saya lihat pemain-pemain Inggris ataupun Jerman itu bertampang oke. Saya sangat excited dengan mereka yang memang merupakan pemain bintang internasional. Rasanya tidak rela jika salah satu tim harus pulang ke negara asal sehingga saya tidak bisa melihat pertandingan mereka lagi selanjutnya.

Pertandingan berlansung sangat menegangkan. Kedua tim saling melakukan penyerangan ke gawang lawan walaupun posisi bola lebih banyak dikuasai oleh tim Jerman. Dan pada akhir pertandingan, Inggris harus mengakui keunggulan Jerman 4-1 (what a beutiful score). Jerman; Miroslav KLOSE (20'), Lukas PODOLSKI (32') dan Thomas MUELLER (67', 70'). Inggris; Matt UPSON (37'). Selamat kepada Thomas MUELLER yang menjadi Man of The Match.

Ternyata David BECKHAM juga menyaksikan pertandingan ini secara lansung walau hanya dari luar lapangan karena tidak bisa main disebabkan cidera. Dan sekedar info, BECKHAM masih akan tetap bermain untuk World Cup 2014, semoga saja..

Untuk selanjutnya, saya memprediksi Jerman akan berhadapan dengan Argentina. Semoga saja Argentina bisa menang mengalahkan Meksiko di perdelapan final ini.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

A beginner has to learn

Sebagai seorang pemula, sekarang saya masih belajar-belajar sendiri cara menggunakan blog. Untuk permulaan memang terasa cukup sulit, tapi semoga saja untuk ke depannya jadi lebih bisa dan mudah, amin..

Kini memang sedang semangat-semangatnya menulis di blog. Semoga saja begitu seterusnya. Sekarang lagi musim libur, tak ada kegiatan apa-apa, sehingga saya bisa meluangkan waktu untuk menulis. Tapi berharap untuk ke depannya, saya tetap konsisten untuk menulis, amin.. (lagi)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS