Ku lirik jam tangan perak yang melingkari pergelangan tangan. Jarum pendek mengarah ke angka tujuh dan matahari sudah tidak menampakkan diri. Di luar sudah semakin gelap dan sudah seharusnya aku meninggalkan ruang ini segera. Hanya aku sendiri yang masih menghuni ruangan kerja saat ini. Semua penghuni lainnya sudah terlebih dahulu mengayunkan kaki mereka untuk terlebih dahulu menuju rumah masing-masing. Dan sudah seharusnya juga aku mengikuti langkah mereka.
Ku matikan komputer, susun kertas-kertas
yang dipenuhi angka dan bereskan alat tulis yang berserakan di meja. Dua belas
jam lagi aku akan bertemu barang-barang ini kembali. Ku kemasi tas dan pasang
jaket untuk bersiap-siap meninggalkan ruangan ini. Ku langkakan kaki dengan
santai menuju lobi lantai bawah untuk selanjutntya menuju halte bus kota yang
tidak jauh dari depan kantor ini.
Sudah hampir enam bulan saya bergabung di
perusahaan ini. Perusahaan yang bergerak dalam bidang pengelolaan dana ini
telah membuatku jatuh cinta dari awal ku melamar. Budaya kerja yang cemerlang,
manusia-manusia yang bersahabat dan jaminan masa depan yang menggiurkan. Walau
banyak tantangan yang saya temui sebagai pegawai baru, hal ini tetap membuat ku
ingin bertahan di perusahaan ini untuk jangka waktu yang lama.
Aku berhenti sejenak di depan kantor untuk
berteduh. Hujan deras tiba-tiba melanda. Aku bisa merasakan angin dingin
menerpa wajahku. Jaket tebal ini tak sepenuhnya bisa menghangatkan tubuh, aku
masih bisa merasakan dingin malam yang menusuk tulang. Sekarang bulan November,
musim pancaroba dimana peralihan musim kemarau ke musim hujan. Tidak heran
hujan sering turun di kota ini.
Saya putuskan untuk berlari melintasi
hujan deras menuju halte bus tak jauh dari depan kantor. Hujan ini akan teduh
lama jika saya tunggu dan malam sudah semakin larut. Setidaknya aku tidak harus
menunggu lama karena bus yang biasa saya naiki melintas cukup sering.
Sembari berlari, saya bisa merasakan air hujan menyiram jaket plastik ini.
Bodohnya, saya lupa mambawa payung dan dan saya tahu resikonya. Dari kejauhan,
saya mendengar suara Bapak-Bapak yang meneriakan “Hati-hati Neng”. Saya tahu
itu Bapak Suprapto, petugas keamanan kantor ini. Bapak itu baik dan penolong.
Saya malahan telah mengenalnya dari pertama kali saya datang ke kantor ini.
Tak ada satu pun orang yang sedang
menunggu bus di halte ketika saya sampai. Aku bisa merasakan sepatu dan bawah
celana yang basah kuyup. Namun hal itu bukan masalah bagiku sekarang. Yang ada
di pikiranku saat ini adalah aku harus segera sampai di rumah kontrakan dan
beristirahat. Dari ujung jalan, aku melihat bus jingga yang akan ku akan ku
naiki. Ku perhatikan bus itu semakin dekat menuju ke arah ku, berdoa semoga bus
itu tidak penuh.
Bus jingga itu akhirnya berhenti di
depanku dan bergegas aku naiki. Bus ini hampir penuh dan bersyukur ada kursi
kosong di belakang. Saya menuju belakang dan duduk. Lega rasanya saya bisa
dapat tempat duduk dan tidak musti berdiri untuk 30 menit ke depan sampai tiba
di tujuan. Tak lama setelah saya duduk, ada laki-laki yang juga segera duduk di
sampingku. Sepertinya dia juga naik dari halte yang sama denganku. Kemeja biru
muda yang dipakainya juga tampak basah.
Bus jingga melaju dengan santai, melintasi
jalanan yang digenangi air. Mataku terpaku menyaksikan hal ini, tampak seperti
pemandangan yang candu untuk dilihat. Bisa ku rasakan kepala ini mulai berat,
mungkin ini karena aku kehujanan. Hidung terasa gatal dan aku pun bersin-bersin
cukup kencang. AC bus ini makin menambah dinginnya malam. Tubuhku serasa beku.
Aku memang sebenarnya tidak tahan dengan suhu dingin.
Tiba-tiba saya melihat tisu lipat yang
disodorkan tepat di depanku. Aku menengok ke samping ke arah di pemilik tangan
itu.
“Ambil saja tisunya. Dari tadi kamu
bersin-bersin”, kata laki-laki berkacamata hitam di samping ku. Si laki-laki
berkemeja biru muda.
Aku hanya memandang ke arahnya sembari
berpikir apakah tisu itu harus ku terima atau tidak.
“Tisu ini gak ada obat biusnya kok. Tenang
saja”, imbuhnya lagi sambil sedikit tertawa.
Laki-laki ini seperti bisa membaca pikiranku.
Aku pun mengambil tisu yang disodorkannya dan segera mengusapkan ke muka. Aku
juga percaya tisu itu tidak ada apa-apanya dan aku sangat menghargai kebaikan
si laki-laki itu.
“Kamu tadi dari halte Astoria juga ya?”,
laki-laki itu bertanya sebagai pembuka perbincangan.
“Iya, Mas”, jawab ku seadanya. Aku rasanya
sedang tak ingin berbincang-bincang dengan siapa-siapa saat ini.
“Berarti Mba ini bekerja di Angkasa Group
juga ya?”, laki-laki ini bertanya kembali.
“Iya Mas, saya di anak perusahaannya yang
bidang keuangan”, jawab ku kembali. Memang tempat kaku bekerja ini perusahaan
dengan banyak anak perusahaan dari berbagai bidang yang berlokasi di suatu
kompleks perkantoran. Mataku masih terpana melihat pemandangan di luar bus.
Fenomena ketika hujan melalui kaca bus yang dipenuhi tetes hujan.
“Hoo iya. Saya juga pegawai di Angkasa
Group Mba. Tapi di anak perusahaan manufakturnya, saya di bagin produksinya”
Saya hanya mengangguk sebagai tanda
mendengarkan tanpa menimpali.
“Berarti Mba ini kenal dengan Mas Ahmad
donk ya? Dia juga sepertinya kerja di tempat Mba. Dia itu teman sekampus saya
dulu”, sambung Mas itu lagi.
“Mas Ahmad Saleh ya maksudnya?”
“Iya itu Mba, nama lengkapnya”, tiba-tiba
dia tertawa kecil. Entah apa yang lucu.
“Mas Ahmad itu rekan senior satu divisi
saya bekerja dulu. Tapi sekarang Mas Ahmad sudah tak kerja di tempat saya lagi.
Baru sekitar empat bulanan yang lalu dia resign karena harus pindah ke luar kota
bersama isterinya setelah menikah. Jadi saya masih tergolong baru kenal Mas
Ahmad”
“Ahmad, Ahmad..”, katanya lagi.
“Loh, kenapa Mas? Ada apa dengan Mas
Ahmad?”, saya heran.
“Ahmad itu teman dekat saya sewaktu kuliah
di Bandung. Dia orangnya gokil. Saya jadi teringat masa-masa dulu masih
seperjuangan dengan Ahmad. Dia orangnya baik dan pintar Mba, tapi kalo gilanya
kumat bikin ramee”
“Hooo iya”, jawab ku mengiyakan
“Saya dulu juga awalnya kerja bareng
dengan Ahmad di perusahaan Mba, tapi enam bulan saya di sana, saya dipindahkan
ke perusahaan tempat saya bekerja sekarang.”
“loh, kenapa dipindahkan?”
“Yaa karena ada kebutuhan pegawai. Awalnya
antara saya atau Ahmad tu yang akan dipindahkan, namun akhirnya saya lah yang
pindah kantor. Ha ha ha”.
Kemudian di menjelaskan posisi dan
pekerjaan yang dia jalani saat ini. Awalnya banyak hal yang tidak saya
mengerti, namun karena cara penyampaiannya yang sederhana membuat saya semakin
tertarik mendengarkannya. Dia juga menambahkan pengalaman bekerjanya yang
sebentar di tempat saya yang sekarang. Ada hal-hal kecil yang menarik yang
disampaikannya yang sampai sekarang tidak saya tahu. Dan ternyata dulu dan
sekarang tidak banyak yang berubah berubah, mulai dari hal umum dan hal kecil
yang sebenarnya tidak perlu dibahas.
"Dulu waktu musim hujan kaya gini
juga. Ruang tengah itu pernah bocor lo. Ketahuannya pagi-pagi pas orang-orang
mulai masuk kerja. Banyak dokumen penting yang basah kuyup waktu itu", dia
kali ini bercerita tentang ruang kerjanya dulu, yang sekarang jadi ruanganku
juga.
"Trus gimana seterusnya?" aku
penasaran.
"Paniklah si Bu Rani. Biasanya si Ibu
tenang. Tahu kejadian begitu, dia ngomel dan semua orang pagi gitu
gotong-royong beresin ruangan. Kebayang kan suasananya pagi itu. Ha ha
ha".
"Ha ha ha", aku tertawa
membayangkan cerita itu dan terhibur.
Aku bisa melihat ke luar dari dalam bus,
bus ini telah melewati SPBU besar di perempatan jalan. Ini berarti aku harus
berhenti di halte selanjutnya. Tak terasa sudah hampir sampai di rumah
kontrakan. Aku melirik ke arah tisu yang dari awal ku genggam dan spontan ku
sodorkan tangan untuk mengembalikan tisu itu ke pemilik semulanya karena aku
harus turun. Tanpa sengaja tanganku menyenggol tangannya dan kacamata yang
sedang dipegangnya untuk dibersihkan lensanya terjatuh ke lorong bus. Dalam
hitungan detik, kaca mata itu pun tidak sengaja terinjak oleh desak-desakan
para penumpang yang akan hendak turun.
Aku pun panik dan memohon maaf kepadanya.
Aku bisa melihat matanya yang sedikit sipit dengan tatapan tajam yang sedari
tadi di tutupi oleh kacamata minus. Kacamata itu sekarang bingkainya sudah
patah dan lensanya sudah sedikit retak. Dia pun mengambil kacamata yang
terjatuh.
“Tidak masalah Mba, saya masih punya kaca
mata cadangan di rumah. Penglihatan saya tidak begitu buruk tanpa kacamata”.
Sepertinya dia bisa membaca rasa bersalah di mata saya dan berusaha meredakan
kepanikan ku.
“Maaf Mas, saya tidak sengaja. Saya akan
carikan kacamata baru pengganti ini. Mohon maaf sekali”, aku sangat kesal
dengan diri saya saat itu. Penumpang sudah mulai turun satu per satu dan saya
pun harus bergegas turun sebelum pintu bus ditutup dan melaju ke halte
berikutnya.
Aku buru-buru ambil kacamata patah dari
tangannya. Dia sudah tak banyak bicara dan pasrah ketika kacamatanya ku ambil.
Pikiranku berkecamuk memikirkan mungkin dia marah dengan tindakan ku saat ini.
Tapi bagaimana pun aku harus turun dari bus ini.
* * *
Tepat tiga bulan sejak kejadian malam itu,
dua pasang kacamata di dalam tas aku belum menemukan tuannya. Sejak pertemuan
malam itu, aku tidak pernah bertemu dia lagi. Jangankah nomor kontak, namanya
saja tidak tahu. Mungkin wajahnya yang masih teringat di otakku. Setiap kali
pulang kantor, aku selalu berharap bisa bertemu dengan dia lagi. Rasanya ingin
mendengar celotehannya yang menarik lagi, atau paling tidak aku ingin
memberikan kacamata pengganti ini.
Malam ini, aku pulang sudah sangat larut.
Jam tangan menunjukkan pukul setengah 10. Seperti biasa, aku naik bus di depan
halte bus tak jauh dari kantor. Malam ini tetap dingin dan aku berharap masih
ada bus yang melintas. Lima belas menit aku menunggu dan bus yang ditunggu
datang juga. Ku arahkan langkah memasuki bus dan duduk di kursi paling depan.
Ketika bus hendak berangkat, ku lihat sesosok laki-laki masuk ke bus
terengah-engah karena sudah berlari mengejar bus ini.
Saya mengenali pria itu. Dia sosok tinggi
kurus yang saya temui tepat tiga bulan lalu. Malam ini pun dia masih mengenakan
kemeja biru muda seperti yang kenakan waktu itu. Aku percaya ini semacam
takdir.






0 komentar:
Posting Komentar